Parenting

4 Pola Kelekatan Anak, Sudahkah Ibu Tahu?

Admin ICANDO05 Mar 2021
anak dan ibu tertawa bersama menunjukkan kelekatan

Gaya hubungan anak dan orang tua memang sangat beragam. Ada anak yang nyaman dan maunya selalu nempel sama orang tua. Beda lagi dengan anak lain yang selalu marah atau kesal saat bersama orang tua. Bahkan ada juga yang menghindar dari orang tua dan lebih pilih dekat dengan nenek dan kakek. Perbedaan gaya hubungan antara anak dan orang tua memiliki kaitan erat dengan kelekatan (attachment).

Tahukah Ibu dan Ayah? Salah satu tugas utama anak di usia dini adalah membentuk kelekatan (attachment) dengan orang tua. Kelekatan menjadi pondasi bagi si Kecil agar dapat berkembang dengan optimal.             

               

Apa itu Kelekatan (Attachment)?

Dalam dunia psikologi, kelekatan (attachment) dapat diartikan sebagai ikatan emosi yang bersifat erat yang dibangun melalui interaksi dua arah dengan pengasuh. Umumnya, peran pengasuh utama anak dipegang oleh ibu. Meski begitu, anak juga bisa membentuk ikatan dengan pengasuh lainnya, seperti ayah, nenek, kakek, tante, atau asisten rumah tangga.

 

Bagaimana Kelekatan Terbentuk?

Kelekatan dibentuk melalui interaksi yang terjadi antara anak dan pengasuh. Umumnya anak akan mencari pengasuhnya saat merasa tidak nyaman dan tidak aman. Misalnya ketika sakit, sedih, takut, dsb. Reaksi yang ditunjukkan pengasuh terhadap kondisi anak menjadi penentu pola kelekatan yang terbangun di antara mereka.

Memasuki usia 6 bulan, anak mulai mampu memprediksi kemungkinan reaksi yang akan ditunjukkan oleh pengasuh. Prediksi ini dibangun berdasarkan pola interaksi sehari-hari yang dirasakan oleh anak dengan pengasuh tertentu. Kemampuan prediksi ini memungkinkan anak untuk mengatur strategi saat merasakan ketidaknyamanan.

Tahukah Ibu Ayah? Si Kecil bisa memiliki pola kelekatan yang berbeda-beda dengan tiap figur pengasuhnya lho… Lalu, apa sih hal-hal yang memengaruhi kelekatan anak dengan orang tua?

 

Faktor Pendukung Terbentuknya Kelekatan Anak dan Orang Tua

Secara umum, terbentuknya kelekatan ditentukan oleh dua faktor. Faktor pertama adalah temperamen anak. Temperamen adalah kecenderungan reaksi anak terhadap situasi tertentu. Anak dengan temperamen mudah marah, berpotensi membuat orang tua sulit memenuhi kebutuhan anak. Akhirnya kelekatan anak dengan orang tua sulit terbentuk.

Faktor kedua adalah sensitivitas orang tua. Orang tua yang sensitif atau peka, mampu merespon kebutuhan anak dengan cepat dan tepat. Dengan begitu, anak dapat kembali merasa aman dan nyaman.

 

Empat Pola Kelekatan Anak

1. Secure Attachment

Anak dengan secure attachment cenderung ingin tetap berdekatan dengan pengasuh hingga anak merasa aman. Pola ini terbentuk karena pengasuh menunjukkan reaksi yang cepat, tepat, dan penuh kasih sayang saat anak mengalami perasaan tidak aman dan tidak nyaman.

Anak yang memiliki secure attachment umumnya merasa bahwa lingkungan sekitarnya aman dan nyaman untuk dijelajahi. Hal itu membuat anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan lebih mampu untuk menunjukkan kemandirian (autonomy).

Bukan cuma itu saja lho Ibu dan Ayah… Anak dengan secure attachment juga akan lebih mampu untuk membangun hubungan sosial yang baik. Mulai dari teman sebaya, guru, hingga pasangan romantis saat dewasa.

2. Avoidant Attachment

Anak dengan pola avoidant attachment cenderung menutupi ketidaknyamanan yang ia rasakan di hadapan pengasuh. Pola ini terbentuk karena pengasuh seringkali menunjukkan penolakan saat anak menunjukkan emosi negatif, seperti meminta anak diam, mengejek anak, atau sekadar menunjukkan ekspresi sebal.

Anak dengan avoidant attachment memiliki risiko untuk mengalami masalah penyesuaian diri. kecenderungan anak untuk memendam emosi negatif dapat terbawa hingga dewasa. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan jiwa, seperti depresi.

3. Resistant Attachment

Anak dengan pola resistant attachment umumnya mengekspresikan emosi negatif dengan cara yang ekstrim, mulai menangis meraung-raung hingga tantrum. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian dan reaksi pengasuh. Cara itu dilakukan karena reaksi pengasuh yang inkonsisten terhadap kebutuhan dan keinginan anak.

Anak dengan pola ini memiliki risiko sulit dalam mengatur emosi diri. Selain itu, anak juga akan sulit membangun hubungan sosial dengan orang lain. Hal ini berpotensi menghambat perkembangan sosial-emosional anak.

4. Disorganized Attachment

Anak dengan pola disorganized attachment ditandai dengan interaksi anak dan pengasuh yang tidak normal (atypical). Interaksi tidak normal terjadi hampir setiap saat. Bukan hanya terjadi saat anak merasakan ketidaknyamanan.

Anak dengan pola kelekatan ini umumnya memiliki pengasuh yang mengalami trauma berkepanjangan. Anak dengan ibu yang mengalami depresi juga berpotensi membentuk pola disorganized attachment. Pola kelekatan ini juga seringkali terkait dengan masalah perilaku  pada anak.

Itulah keempat pola kelekatan (attachment) anak. Coba Ibu dan Ayah perhatikan, mana ya kira-kira pola kelekatan yang anak bangun dengan Ibu dan Ayah? 

 

Bangun Kelekatan dengan si Kecil Bersama ICANDO!

Tahukah Ayah dan Ibu bahwa aplikasi pendidikan ICANDO bisa menumbuhkan kelekatan orang tua dengan anak? Yup, dengan aplikasi ini, Ayah dan Ibu dapat secara aktif membimbing dan mendampingi petualangan belajar si Kecil baik secara online maupun offline. Download aplikasi ICANDO dan isi waktu berkualitas bersama si Kecil! 

 

Referensi:

Benoit, D. (2004). Infant-parent attachment: Definition, types, antecedents, measurement and outcome. Paediatrics & child health, 9(8), 541-545.

Brooks, J. (2011). The process of parenting (8th ed.). McGraw-Hill International Edition.

Papalia, D. E., & Feldman, R. D. (2012). Experience human development (12th ed.). McGraw-Hill International Edition.

 

Artikel Populer

Sains Seru: Coba 5 Eksperimen Sederhana Ini Bersama si Kecil

22 Apr 2021

Admin ICANDO

Lihat Artikel

Judul Album Foto Anak Kekinian dan Cara Membuat Album Foto Sendiri

12 May 2021

Admin ICANDO

Lihat Artikel

8 Manfaat Permainan Petak Umpet untuk Anak

19 Jun 2021

Admin ICANDO

Lihat Artikel

Pengertian, Jenis, dan Contoh Cerita Fabel untuk si Kecil

02 May 2021

Admin ICANDO

Lihat Artikel

Artikel Terkini

Extensive Reading: Cara Mudah Anak Kuasai Bahasa Asing

26 Oct 2021

Nadhira Ryana

Lihat Artikel

Discovery Learning dan Inquiry-Based Learning: Apa Perbedaannya?

22 Oct 2021

Nadhira Ryana

Lihat Artikel

Strategi Jitu Anak Belajar Mengeja dan Mengenal Huruf

06 Oct 2021

Nadhira Ryana

Lihat Artikel

4 Faktor Kunci Pembelajaran Online yang Efektif

22 Sep 2021

Devi Harvens

Lihat Artikel